Rabu, 26 September 2012

Dunia Pasti Berputar


Siang itu, di bawah terik matahari seorang anak laki-laki berpakaian lusuh dengan membawa tas berisi beberapa koran, dengan semangat mengayuh sepedanya. Tanpa kenal lelah, anak itu mengayuh sepedanya melewati jalan raya, perkampungan, dan gang sempit. Beberapa kali, dia tampak berhenti di depan rumah tertentu lalu melemparkan koran. Ya, begitulah kegiatan sehari-hari anak pengantar koran itu. Nama anak itu adalah Mitro. Tak seperti anak seusianya yang seharusnya menuntut ilmu di sekolah, setiap hari Mitro harus rela bekerja demi memenuhi kebutuhan sehari-harinya.
            Perlahan langit yang cerah berganti mendung. Sehingga tak lama kemudian, hujan pun turun. Hujan yang bertambah deras memaksa Mitro untuk berteduh di pintu gerbang sebuah rumah. Tas tebal miliknya tak mampu menahan air hujan sehingga membasahi koran-koran dagangannya. Tiba-tiba dari dalam rumah tempat Mitro berteduh keluar seorang anak, umurnya kira-kira sebaya dengan Mitro. Rupanya anak itu merasa kasihan melihat Mitro kehujanan. Ia lalu mengajak Mitro berteduh di dalam rumahnya. Akan tetapi, Mitro menolak ajakan anak itu. Sambil menunggu hujan reda, anak itu menemani Mitro berteduh. Mereka berdua bercakap-cakap dan saling memperkenalkan diri. Nama anak itu adalah Amir.
            Sejak perkenalan di hari hujan itu, Amir dan Mitro mulai akrab. Terkadang setelah pulang sekolah Amir mengajak Mitro bermain bersama. Amir juga mengajari Mitro membaca dan menulis, karena Mitro buta huruf dan tidak sekolah. Mitro selalu memperhatikan dengan sungguh-sungguh saat Amir mengajarinya. Salah satu kegemaran mereka berdua adalah membaca buku cerita. Amir meminjamkan beberapa buku ceritanya kepada Mitro. Mitro dengan semangat belajar hingga kini dia sudah lancar menulis
            Hari itu, seperti biasa sepulang sekolah Amir datang ke rumah Mitro untuk meminjamkan beberapa buku cerita miliknya. Ketika mereka berdua sedang asyik bermain, sebuah mobil, yang tak lain adalah mobil ayah Amir, berhenti tidak jauh dari tempat mereka duduk. Seketika itu juga Ayah Amir menyuruh Amir pulang, beliau tidak suka Amir bermain dengan Mitro dan melarangnya.
            Sejak kejadian itu Mitro tidak pernah lagi bermain bersama Amir. Mitro tidak ingin Amir kena marah orang tuanya lagi. Hingga pada suatu siang setelah Amir selesai mengantarkan koran, ia memutuskan untuk lewat di depan rumah Amir, karena rasa kangen yang begitu besar terhadap sosok Amir. Selain itu, Mitro juga bermaksud mengembalikan buku cerita kancil yang sudah lama di pinjamkan oleh Amir. Setelah sampai di pintu gerbang, alangkah terkejutnya Mitro ketika mendapati rumah Amir tampak kosong dan sepi. Di pintu gerbang tinggi itu tampak tergantungkan papan kayu bertuliskan “Rumah ini disita”.
            Hari-hari kembali dijalani Mitro sebagai pengantar koran. Dia tak pernah putus asa, selalu bekerja keras demi meraih masa depan. Berkat kerja keras Mitro, sekarang dia mempunyai sebuah toko buku bernama “Kancil”. Mitro tak lagi menjadi pengantar koran keliling, tetapi sekarang dia menjadi agen koran.
            Di malam yang hujan, ada seseorang datang ke toko buku Mitro untuk melamar pekerjaan. Orang itu tampak tidak asing lagi bagi Mitro. Amir, ternyata Mitro masih mengenali teman kecilnya dulu. Tak di sangka olehnya, Amir yang dulu selalu membantu di saat dia kesusahan, kini melamar pekerjaan di Tokonya. Rupanya sejak Amir kecil dulu, rumahnya di sita karena ayahnya terjerat hutang.  Mereka berdua saling bertatap-tatapan saling keheranan. Nampaknya dunia memang telah berputar. Kini Mitro dan Amir menjalani kehidupan membesarkan Toko Buku Kancil bersama-sama.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar